Hijriah atau Hijriyah, mana yang benar?

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai perbedaan penulisan penamaan kalender Islam. Ada yang menulis Hijriah, ada juga yang menulis Hijriyah dan bahkan ada yang menulis dengan Hijriyyah. 

Diantara ketiga penulisan tersebut manakah yang paling benar. 

Pemakai dari ciri-ciri jenis penulisan tersebut tentunya berhak untuk mengklaim bahwa penulisannya lah yang paling betul. Tetapi di artikel ini kami merujuk kepada kamus besar bahasa Indonesia. 

Di KBBI versi terbaru kalender Islam ditulis dengan kata HIJRIAH. Jadi dalam bahasa Indonesia yang baku adalah 'Hijriah'.

Yuk pasang aplikasi Kalender Hijriah paling akurat di HP masing-masing. Caranya silakan ke Google Playstore dengan mengklik tulisan ini, KALENDER HIJRIAH - JADWAL PUASA SUNNAH.


Kata Hijriah dihubungkan dengan proses hijrahnya nabi dari kota Mekah ke Kota Madinah. Tahun berlangsungnya hijrah tersebut dihitung sebagai tahun 1 Hijriah. 

Jadi kalau saat ini adalah tahun 1442 Hijriah maka proses berlangsungnya hijrah dari Mekah ke Madinah artinya sudah 1442 Tahun lamanya tapi dihitung berdasarkan kalender Hijriah. Jika dihitung berdasarkan kalender Masehi maka jumlahnya lebih kurang karena hari di penanggalan Hijriah lebih sedikit dibandingkan dengan hari di penanggalan masehi atau miladiah.

Hadits Berkenaan Puasa Senin Kamis

Puasa Senin Kamis lazim dilakukan oleh sebagian orang. Puasa ini dilaksanakan dua kali dalam seminggu, setiap hari Kamis dan Senin, sesuai dengan namanya. Nabi Muhammad SAW pun mengamalkan puasa ini. Ada beberapa buah hadits yang berkenaan dengan Puasa Senin Kamis, yaitu:

1. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari Senin dan Kamis.” (HR. An Nasai no. 2362 dan Ibnu Majah no. 1739)

2. Usamah bin Zaid berkata:

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ تَصُومُ حَتَّى لاَ تَكَادَ تُفْطِرُ وَتُفْطِرُ حَتَّى لاَ تَكَادَ أَنْ تَصُومَ إِلاَّ يَوْمَيْنِ إِنْ دَخَلاَ فِى صِيَامِكَ وَإِلاَّ صُمْتَهُمَا. قَالَ « أَىُّ يَوْمَيْنِ ». قُلْتُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ. قَالَ « ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ »

Aku berkata pada Rasul–shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Wahai Rasulullah, Engkau terlihat berpuasa sampai-sampai dikira tidak ada waktu bagimu untuk tidak puasa. Engkau juga terlihat tidak puasa, sampai-sampai dikira Engkau tidak pernah puasa. Kecuali dua hari yang Engkau bertemu dengannya dan berpuasa ketika itu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa dua hari tersebut?” Usamah menjawab, “Senin dan Kamis.” Lalu beliau bersabda, “Dua hari tersebut adalah waktu dihadapkannya amalan pada Rabb semesta alam (pada Allah). Aku sangat suka ketika amalanku dihadapkan sedang Aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. An Nasai no. 2360 dan Ahmad 5: 201)

3. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ

Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka Aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan Aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi no. 747)

4. Dari Abu Qotadah Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas Beliau menjawab:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

Hari tersebut adalah hari Aku dilahirkan, hari Aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim no. 1162)

5. Dari Abu Hurairah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

Pintu surga dibuka pada hari Senin dan kamis. Setiap hamba yang tidak berbuat syirik pada Allah sedikit pun akan diampuni (pada hari tersebut) kecuali seseorang yang memiliki percekcokan (permusuhan) antara dirinya dan saudaranya. Nanti akan dikatakan pada mereka, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai.” (HR. Muslim no. 2565).

Demikian hadits-hadits berkenaan dengan Puasa Senin Kamis, semoga bermanfaat bagi kita semuanya. Aamiinn….